bukan apa-apa

February 6, 2009

Nanti, menyendiri akan datang!

Filed under: asa, cita — by nareddish @ 8:42 pm

Waktu itu, malam-malam…saya ngobrol dengan teman. Namanya Cui, besar di bandung dan sedang mencari cinta. Saya dan dia membahas tentang enaknya hidup sendiri. Menurut Cui “menyendiri” adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup. Menurut saya, tidak mungkin. Manusia tidak akan pernah lepas dari manusia lain. Sebesar apapun niat manusia untuk menyendiri ia tidak akan pernah sendiri. Status itu berlangsung sampai dengan nafas terakhir. Setelah menjadi tidak bernyawa, disaat itulah manusia bisa “menyendiri”. Cui mengasihani saya karena tidak bisa menyendiri. Setelah bermalam-malam kemudian saya menyadari, mungkin Cui salah mengerti tentang maksud saya.

Jadi gini, Cui…

Saya tidak bisa menyendiri, bahkan dalam keadaan terburuk. Kalau sendiri bisa gila mungkin. Ketika perasaan saya sedang tidak sedap, saya butuh orang lain. Waktu doping menolak proposal saya, ada menit-menit tertentu yang saya gunakan untuk mengakui kekurangan saya. Setelah itu saya butuh orang lain untuk konfirmasi tentang pikiran saya, mendengar cerita lucu atau sekedar mendengarkan kesedihan saya. Lain waktu, ketika seorang teman menuduh saya tidak kooperatif. Saya butuh waktu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia seperti itu dan mengapa saya begini. Tapi itu tak lama, saya tidak butuh berpikir sendiri tentang tuduhan itu. Saya segera kumpulkan orang lain untuk membantu saya membuktikan yang sebenarnya. Sungguh saya tidak bisa sendiri.

Kembali pada malam saya dan cui ngobrol. Kata cui, orang yang ahli menyendiri menjadi sangat bahagia karena tanpa orang lainpun ia bisa menjalani harinya. Kayaknya susah, ui…..

Mungkinkah saya tidak tersenyum pada orang yang kamarnya ada didepan kamar saya? Mungkin. Tapi syaratnya banyak. Orang itu harus diam terus dikamarnya. Hanya keluar ketika saya keluar. Hanya menerima orang selain saya. Mungkin saya tidak akan tersenyum padanya. Tapi ketika ia mulai membuka pintu kamar dan hatinya, ketika ia mulai bertanya apakah air mati atau tidak, ketika ia menawarkan saya masakannya…apakah pantas bila saya tidak tersenyum? Apakah pantas saya menyendiri?

Sampai disini, saya jadi terpikir. Menyendiri akan saya lakukan ketika saya telah memenuhi beberapa kriteria. Saya akan menyendiri ketika saya punya seluruh dunia dalam tas ransel saya. Saya tau hal itu akan terjadi bila saya patuh, taat, cinta dan takut pada Yang Maha Pemilik Alam Semesta. Saya akan menyendiri ketika saya punya bekal dalam tas ransel saya. Bekal itu ada banyak, ui. Saya butuh pengetahuan, agar ketika ditanya tentang apapun saya menjawab dengan tepat. Saya butuh kesabaran, agar ketika menunggu dalam kesepian saya selalu tersenyum. Saya akan menyendiri ketika saya mampu melangkahkan kaki dalam nafas keselamatan, keselamatan alam semesta. Mungkinkah saya bisa menyendiri, ui? Paling tidak ketika saya menulis ini, waktunya belum tiba.

“Pesan dari teladan sepanjang zaman : Jangan takut mati. Meski kau sembunyi dia menghampiri. Takutlah pada kehidupan sesudah kau mati. Renungkanlah itu!”

August 9, 2007

Kalian atau Kami?

Filed under: asa, cita, pikir — by nareddish @ 5:20 pm

Statement standar, kalau ada terdengar “kita ini sama-sama islam”. Standar sekali. Setiap terjadi “daya gesek” antara saudara-saudara kita sendiri, maka cipratan api akan padam bila terdengar statement di atas. Tapi hanya sejenak. Tak sampai sejenak, mungkin tak berwaktu. Maka kemudian “daya gesek” semakin tinggi besarannya. Makin sering sesama “kita” saling membakar. (more…)

July 25, 2007

ini…

Filed under: cita — by nareddish @ 4:53 pm

Powered by WordPress.com