bukan apa-apa

April 29, 2008

Subjektivitas Positivisme

Filed under: catatan jujur, hari ini — by nareddish @ 11:41 pm

Aku mau curhat*

Mengapa subjektivitas selalu menimbulkan masalah? Mengapa selalu menimbulkan rasa tidak enak? Mengapa tiba-tiba saja senyum antar teman menjadi sirna? Mengapa semua hal yang menyenangkan menjadi hilang?

Dalam situasi yang diminta untuk positif, ternyata sulit sekali untuk tidak negatif. Asumsiku, lingkungan positif hanya bisa dibentuk bila komponen-komponen didalam lingkungan itu memang meginginkan keadaan yang positif.

Kawan (meminjam dari Hirata, 2008), itu pengalamanku di kelas psikologi positif. Yang aku pahami, pembelajaran di psikologi positif dapat mengarahkan aku (tidak mewakili seluruh peserta kuliah –not at all-) kepada evaluasi positif terhadap semua komponen kehidupan. Aku harus berpandangan positif ketika merancang pembelajaran untuk low achiever, yang berarti aku harus melihat bahwa anak-anak spesial itu jelas dan selalu memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan sehingga membuat mereka berprestasi dalam hal apapun (tapi tidak lepas dari konteksnya). Maka bila aku menghayati keseluruhan pembelajaran itu, diharapkan aku menjadi orang yang selalu punya cara evaluasi yang positif terhadap semua hal. Terhadap harga makanan yang makin mahal, terhadap orang yang sangat perhatian padaku, terhadap teman yang bahkan melihatku pun tak mau, terhadap motorku yang ngambek, terhadap apa pun.

Cerita sebenarnya dimulai dari sini. Salah satu yang unik di kelas psikologi positifku adalah sistem presentasi, kuis dan nilainya. Seluruh peserta kelas dibagi ke dalam 5 kelompok. Setiap kelompok membahas salah satu topik dalam psikologi positif (umumnya kami beracuan pada Compton). Kelompok mempersiapkan presentasi. Setiap anggota kelompok akan presentasi di depan kelompok-kelompok kecil (dibentuk dari peserta yang tidak presentasi). Jadi tidak presentasi di depan kelas. Selesai presentasi (20 menit), diadakan kuis (10 menit). Soal kuisnya berkaitan dengan konsep dasar topik yang dipresentasikan dan 3 riset tentang topik tersebut. Jawaban kuis kemudian diperiksa di hari itu juga di kelas. Jawaban kuis diperiksa oleh peserta kelas itu sendiri (didistribusikan sehingga tidak ada yang memeriksa teman disebelahnya atau memeriksa jawaban sendiri). Kunci jawaban dan skor tiap jawaban ditentukan oleh kelompok yang presentasi. Jadi penilaian setiap peserta didasarkan pada acuan itu. Adapun bentuk jawaban kuis adalah recall (cukup menyebutkan) dan deskripsi (harus diuraikan).

Istilah temanku, penilaian kuis sangat subjektif. Maksudnya meskipun ada acuan skor, tapi penilaian terhadap jawaban tetap saja tergantung yang memeriksa. Bila dianggap cocok diberi skor tinggi, bila tidak skornya rendah. Kalau yang memeriksa sangat objektif, kata yang tidak sama atau kalimat yang tidak bisa ia (pemeriksa) pahami akan di skor rendah. Sebaliknya bila pemeriksa adalah orang yang sangat ”nyantai”, bisa saja skor yang diberikan berdasarkan ”upah nulis” + ”kasihan” + ”demi kebaikan bersama”. Nilai yang didapat peserta (kecuali yang presentasi) menjadi nilai pribadinya, dan deposit untuk nilai final (karena tidak ada UAS). Sekaligus semua nilai dirata-ratakan, kemudian menjadi nilai kelompok. Untuk mengurangi subjektivitas (?) setiap peserta boleh komplain tentang skor yang didapatkannya.

Wuih…setiap selesai penilaian suasana kelas menjadi sangat sungguh benar-benar tidak enak.

”Kok disalahin? Ini kan benar”

”Kamu gimana sih? Ngasih nilai pelit benar!”

”Maaf ya, saya mau bertanya tentang penilaian ini. Mengapa saya diberi skor hanya segini?”

Cepat..cepat keluar dari kelas, aku tidak tahan. Sungguh. Aku capek. Capek berpikiran negatif. Ingin segera meraup udara positif.

Bukan, Kawan. Aku bukan tidak suka dengan sistemnya. Aku sungguh menyukainya. Dalam konteks, ini adalah pengalaman baru. Aku tidak masalah dengan penilaian yang subjektif. Toh…hakikatnya, tidak ada sesuatu apapun yang objektif di dunia ini (refer to lecture of Filsafat Ilmu). Sungguh. Aku mengakui bahwa nilai yang kudapatkan penting. Itu penting untuk kelulusanku dari sekolah formal. Aku tahu itu, Kawan. Sungguh. Tapi bolehkah aku berharap sesuatu di luar nilai itu. Aku berharap banyak nilai lain lagi, yang akan membawaku lulus di universitas kehidupan. Nilai dalam menerima semua tantangan, nilai dalam menerima apa pun yang ku punya, nilai bahwa nasibku bisa berubah bila tanganku sendiri yang mengubahnya, nilai bahwa teman adalah harta yang sangat berharga, nilai bahwa pengetahuan bukan sesuatu yang tidak boleh dibagikan, nilai bahwa senyuman adalah cara kita memandang dunia dengan lebih indah, sungguh aku mengharapkan banyak nilai lain. Sebut aku munafik, sebut aku ”sok paten”, sebut apa saja yang Kawan kira bisa menggambarkanku. Tapi aku tahu paham tentang apa yang aku mau, maka aku tak peduli dengan sebutan yang menyerangku. Bahkan dengan sebutan itu aku kemudian ”thriving and flourishing” menuju ”the autenthic me”. Untuk itu terima kasih.

Kawan, aku minta maaf bila kalian yang pernah aku periksa jawaban kuisnya merasa dirugikan. Aku minta maaf. Aku selalu menulis di kertas kalian, kan? Bahwa aku menerima komplain? Aku punya ”konsep dasar” untuk memberi upah nulis. Aku hanya mengacu pada kunci jawabannya dan rasa sayangku pada kehidupan (euh…parabolic words that must be removed?). Aku minta maaf untuk kampanye ”UPAH NULIS” yang aku lakukan. Aku minta maaf bila langkah lancangku mengancam objektivitas yang kalian miliki. Aku hanya menjaga setiap nilai positif yang aku punya. Aku paham bahwa nilai pribadi setiap kita akan meningkatkan nilai kelompok. Aku cuma ingin kita semua merasa nyaman dengan teman yang sudah lama kita ajak makan ke kantin, teman yang sering kali menjaga tas kita, dan juga nyaman dengan kelas tempat kita kuliah itu. Beneran, aku minta kita seperti dulu lagi. Bisa tertawa. Bisa tertawa. Bisa tertawa. Bisa tertawa. Bantu aku, Kawan. Aku bisa ”gak positif” di kelas positif ini.

Sampai disini, Kawan. Aku sedikit lega. Tapi temanku bilang, aku bisa tulis seperti ini karena skor kuisku belum pernah di bawah 50 (!@#$%^&*)

-dina nazriani-

29 April 2008

*tidak ditulis sebagai protes terhadap apapun. hanya curhat.

April 4, 2008

Kamu sangat beruntung!!!

Filed under: catatan jujur, hari ini — by nareddish @ 12:26 pm

Kamu marah setiap kali ada hal yang tidak sesuai dengan yang kamu inginkan, tapi pada akhirnya alam mengalah dan memberikan apa yang kamu inginkan.

Kamu marah setiap kali ada pertanyaan yang tidak bisa kamu jawab, tapi pada akhirnya alam mengalah dan memberikan jawaban apa yang benar.

Kamu marah setiap kali ada manusia yang mendekat kepada kebenaran, tapi pada akhirnya kamulah yang menyampaikan kebenaran yang didapat oleh manusia lain.

Kamu marah setiap kali keadaan tidak memihak padamu, tapi pada akhirnya alam mengalah dan membiarkanmu membentuk keadaan.

Kamu marah sama orang yang tidak bisa kamu kritik, tapi kamu sendiri tidak pernah mau dikritik.

Kamu marah sama orang yang peduli ke kamu, tapi kamu marah juga pada orang yang tidak peduli kamu.

Kamu hanya marah, dan kamu selalu berbahagia diatas keresahan orang lain.

Kamu sangat beruntung!!!

-based on true feeling about her who always use the innate potential of anger-promise not to not love you, it’s time to indifference-

January 17, 2008

dangdut

Filed under: catatan jujur — by nareddish @ 1:15 am

Kawan, dengarlah ini. Aku baru saja merasakan sesuatu yang indah. Sungguh. Baru kali ini aku bisa mengerti bagaimana rasanya merelakan. Merelakan sesuatu tidak menjadi milik pribadi. Merelakan sesuatu pergi, ringan melayang ke angkasa. Merelakan diri tersenyum kembali dan juga menangis menghadapi jalan hidup sehari-hari.

Ternyata, merelakan itu sungguh berat dan sakit. Seperti jerawat yang dipencet untuk mengeluarkan ”matanya”. Seperti jari tanganmu yang terjepit pintu mobil. Meski sakit, ternyata juga indah. Dalam proses merelakan itu aku merasakan hati yang terbolak-balik. Mempertanyakan apa yang sebenarnya ku relakan dan apa yang sebenarnya ku pertahankan.

Meski ada rasa sakit, aku ingin selalu bisa merelakan. Aku ingin merasakan sakitnya untuk kemudian mereguk indahnya. Maka.. 

Aku rela sahabatku pergi ke jalannya sendiri. Memilih rumah yang terindah baginya. Ironisnya, orang yang ku anggap sahabat tidak menganggap ku sahabat. Tapi tetap saja aku rela tak dianggap sahabat.

Aku rela berada di sini. Untuk meraup bekal demi harapanku. Meski aku jauh dari sepoi angin cinta, keluarga dan persahabatan. 

Aku rela hidup. Untuk mati?

January 14, 2008

Ada “dia” dibalik kesulitan

Filed under: catatan jujur, cinta — by nareddish @ 4:23 pm

Sebulan ini, saya resah. Seorang pria –tampan, lucu, cerdas- menikah dengan wanita pilihannya. Saya patah hati. Saya letakkan harapan padanya, seperti saya mengharapkan pernikahan. Setiap hari, yang saya pikirkan adalah dia, dia dan dia. Selalu dia. Tanpa tau malu pula, saya mengiriminya SMS dan bahkan menelponnya. Bayangkan, bukankah saya telah mendekati ciri-ciri penganggu keluarga orang lain. Saya kesusahan, saya kesulitan. Perasaan patah hati dan hopeless hinggap setiap detik, menit, jam, hari dan selalu. Padahal dari awal saya tahu, ini cinta bertepuk sebelah tangan. Ya ampun, betapa menyedihkan diriku….

Hari ini, seorang teman berkata, ”Taukah kau, Allah selalu menjamin. Ingat ini, selalu menjamin. Bahwa dibalik kesulitan, selalu ada kemudahan. Sekali lagi ku katakan, ini jaminan dari Allah. Harusnya kau sadar begitu banyak kemudahan yang kau dapat dari patah hatimu ini.”. Aku bingung dan berkata dalam hati, ”berani benar dia bilang aku punya banyak kemudahan. Aku menderita dalam penderitaan yang kubuat sendiri dan aku terjebak tanpa tau apa yang harus ku lakukan”. Temanku lalu nyerocos lagi, ”Bulan lalu ia menikah dan kau tak diberi kabar. Kau harusnya bersyukur, karena kau bisa menghemat sekian puluh bahkan ratusan ribu rupiah. Kau tak perlu memberinya kado kan? Bukankah kau sedang berusaha berhemat, hahhh? Sebulan lalu dia menikah, dan anggaplah dia meninggalkanmu meskipun aku yakin dia sama sekali tak tertarik padamu, bukankah itu pertanda bahwa kau tak perlu memasukkan dia dalam daftar lelaki idamanmu yang sudah sangat panjang itu? Aku yakin kau masih mau mengurangi jumlah lelaki yang terdaftar di daftar gilamu itu, sebelum aku yakin kau mengalami disorder jenis baru. Satu lagi, sejak dia menikah, kau tau kan harus menikah dengan siapa. Yang jelas bukan dengan si pria tampan, lucu dan cerdas itu. Dan masih banyak lagi kemudahan lain. Aku tak perlu membeberkan semuanya. Belum tentu juga kau melupakan dia yang sudah menikah itu”. Aku bingung lagi dan berkata lagi dalam hati, ”Kejam, dia bilang lelaki itu tak tertarik padaku. Sungguh kejam”. Temanku meneruskan kebiasaannya memasukkan makanan ke mulut. Dan catat ini, dia pasang muka sinis, meremehkan dan ekspresinya seakan berkata ”dasar bodoh!”.

Sebulan bukan waktu yang singkat. Hampir setiap hari selama sebulan, yang aku bicarakan dengan temanku tadi hanyalah tentang pria tampan, lucu dan cerdas itu. Hanya itu. Dan polanya selalu sama. Aku bilang padanya perasaanku deg-degan, dia tanya kenapa, aku bilang teringat seseorang, dia tanya siapa, aku jawab pria tampan, lucu dan cerdas, dia bilang lupakan saja pria itu karena dia sudah beristri, aku bilang tak bisa, dia bilang cobalah, aku bilang lagi tak bisa dan setelah itu temanku akan berbicara semua hal yang mungkin kulakukan. Itu berlangsung setiap hari. Jadi kupikir temanku sudah layu. Dia lelah dengan aku yang tak bisa membantu diri sendiri. Maka, setelah sebulan dia sampaikan sesuatu di kantin. Hari ini. Aku lihat lagi wajahnya. Temanku yang baik ini, dia sudah lelah olehku. Dan aku tidak pernah bisa mengerti. Hanya aku yang ingin dimengerti.

Aku cerna lagi kata-katanya tadi. Yang pertama tentang kemungkinan bahwa pria itu tidak tertarik padaku. Itu adalah hal yang tak kuinginkan dan itu juga yang terjadi sebenarnya. Pria tampan, lucu dan cerdas itu sama sekali tak tertarik padaku. Sedikitpun. Dia tipe pria yang menyukai gadis, gadis seutuhnya. Ramping, solehah, cerdas, keibuan dan cantik. Aku sama sekali tak punya kriteria yang ia dambakan. Aku gendut, malas sholat, cenderung moron, tidak memiliki kualitas ibu dan jelek. Maka aku memberikan cinta platonisku pada pria yang sama sekali tak melirikku. Bukankah itu bodoh? Ya, aku bodoh. Soal berhemat, itu tak terlalu kena sasaran. Karena tadi pagi aku mengirimkan paket untuk pria tampan, lucu dan cerdas sebagai bingkisan atas pernikahannya. Aku jadi malu. Sejak dia menikah, aku jadi kehilangan satu pria idaman. Ya, jumlah lelaki didaftarku akan berkurang. Dan itu akan menghemat pikiran, dan kertasku. Huh…!!!! Dan sejak ia menikah, harusnya aku tak ragu lagi. Aku tahu dengan siapa aku ingin menikah. Hmmm…kau benar temanku. Kau terutama benar pada bagian jaminan dari Allah tadi. Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan. Kau benar.

Aku tersenyum. Memanggil nama temanku dan memberi tanggapan atas apa yang dia katakan tadi. Dia tidak tersenyum, dan berkata, ”Kau lupa satu hal, aku sangat senang akhirnya pria tampan, lucu dan cerdas itu menikah. Bukankah kini daftarmu kurang satu orang? Aku mau mengisi tempat yang kosong itu. Dan maukah kau meletakkan ku dinomor 1? Aku ingin diprioritaskan. Bukankah ini kemudahan bagimu? Kau tak perlu repot mencari siapa yang mau diprioritaskan sebagai calon suamimu. Aku menawarkan diri”.

untuk : Ihsan Ma’zhumi dan IAL-DP


December 30, 2007

saya tukang bohong 2

Filed under: catatan jujur — by nareddish @ 2:07 am

saya tukang bohong. saya sebut diri saya seperti itu karena selalu saja saya berperan sebagai orang lain. anehnya orang-orang sekitar saya tidak sadar, saya bukan saya. saya tukang bohong.

ah…sudahlah. bahkan ulat di batu pun sudah ditentukan rezekinya.

Next Page »

Powered by WordPress.com