Saya pernah membaca kalimat, “hidup adalah sekolah”. Kalimat itu….hmmmm…..saya mulai memamah ulang semua hal yang saya lihat hari ini.
Pagi hari, saya belajar tentang ‘apa yang terjadi bila saya menyapa? Bila saya tersenyum?”. Ini yang terjadi. Lelaki cerdas itu kemudian memberi saya bantuan tak terduga, sebuah makalah tentang topik yang saya cari. Seorang lelaki lagi mendapatkan informasi dari saya tentang dosen yang ia incar sebagai pembimbingnya. Seorang lelaki lain tersenyum, dengan catatan ia bahkan tidak tau siapa saya. Ini soal lelaki? Bukan. Ada perempuan, tertawa malu-malu karena mengakui headset yang ia pakai baru ia beli kemarin di pameran. Seorang perempuan bersemangat mencari topic penelitian dan memutuskan untuk berolahraga sore hari. Perempuan lain memutuskan bahwa ia tertarik pada seorang lelaki dan menyadari saatnya belum tiba (hahahahahaa…. ^_^).
Siang hari, saya belajar tentang ‘apa gunanya berteman?’. Saya terkejut menyaksikan, mengalami, dan memahami efeknya. Sungguh. Seorang perempuan, cantik, muda, pintar. Ia memaksa untuk membantu saya. Anugrah apa ini? Perempuan lain bilang bahwa hidup saya sangat beruntung, karena memiliki teman sepertinya. Seorang perempuan lain bercerita betapa repot dan indahnya masa-masa minggu pertamanya menjadi istri. Teman saya yang lelaki membuat saya menghargai bau rokok, karena setiap apa pun semestinya antar teman selalu berbagi (………)
Menjelang sore, dibawah hujan, saya belajar. Bahwa ini hidup bisa berhenti tepat ketika saya menekan keyboard untuk huruf terakhir saya. Dan bukan itu fenomena yang patut dipahami. Jelas, bahwa dalam seragam sekolah apapun manusia harus jadi yang terbaik.
*hidup adalah sekolah

din,….kayaknya aku udah baca tulisan ini di blog FSnya dina deh??bener gak? ^_^
Comment by asri — February 1, 2009 @ 11:14 pm |
benar sekali..sama isinya, heheheee,,,,jadi malu…
Comment by nareddish — February 5, 2009 @ 5:21 pm |