bukan apa-apa

January 17, 2008

dangdut

Filed under: catatan jujur — by nareddish @ 1:15 am

Kawan, dengarlah ini. Aku baru saja merasakan sesuatu yang indah. Sungguh. Baru kali ini aku bisa mengerti bagaimana rasanya merelakan. Merelakan sesuatu tidak menjadi milik pribadi. Merelakan sesuatu pergi, ringan melayang ke angkasa. Merelakan diri tersenyum kembali dan juga menangis menghadapi jalan hidup sehari-hari.

Ternyata, merelakan itu sungguh berat dan sakit. Seperti jerawat yang dipencet untuk mengeluarkan ”matanya”. Seperti jari tanganmu yang terjepit pintu mobil. Meski sakit, ternyata juga indah. Dalam proses merelakan itu aku merasakan hati yang terbolak-balik. Mempertanyakan apa yang sebenarnya ku relakan dan apa yang sebenarnya ku pertahankan.

Meski ada rasa sakit, aku ingin selalu bisa merelakan. Aku ingin merasakan sakitnya untuk kemudian mereguk indahnya. Maka.. 

Aku rela sahabatku pergi ke jalannya sendiri. Memilih rumah yang terindah baginya. Ironisnya, orang yang ku anggap sahabat tidak menganggap ku sahabat. Tapi tetap saja aku rela tak dianggap sahabat.

Aku rela berada di sini. Untuk meraup bekal demi harapanku. Meski aku jauh dari sepoi angin cinta, keluarga dan persahabatan. 

Aku rela hidup. Untuk mati?

January 14, 2008

Ada “dia” dibalik kesulitan

Filed under: catatan jujur, cinta — by nareddish @ 4:23 pm

Sebulan ini, saya resah. Seorang pria –tampan, lucu, cerdas- menikah dengan wanita pilihannya. Saya patah hati. Saya letakkan harapan padanya, seperti saya mengharapkan pernikahan. Setiap hari, yang saya pikirkan adalah dia, dia dan dia. Selalu dia. Tanpa tau malu pula, saya mengiriminya SMS dan bahkan menelponnya. Bayangkan, bukankah saya telah mendekati ciri-ciri penganggu keluarga orang lain. Saya kesusahan, saya kesulitan. Perasaan patah hati dan hopeless hinggap setiap detik, menit, jam, hari dan selalu. Padahal dari awal saya tahu, ini cinta bertepuk sebelah tangan. Ya ampun, betapa menyedihkan diriku….

Hari ini, seorang teman berkata, ”Taukah kau, Allah selalu menjamin. Ingat ini, selalu menjamin. Bahwa dibalik kesulitan, selalu ada kemudahan. Sekali lagi ku katakan, ini jaminan dari Allah. Harusnya kau sadar begitu banyak kemudahan yang kau dapat dari patah hatimu ini.”. Aku bingung dan berkata dalam hati, ”berani benar dia bilang aku punya banyak kemudahan. Aku menderita dalam penderitaan yang kubuat sendiri dan aku terjebak tanpa tau apa yang harus ku lakukan”. Temanku lalu nyerocos lagi, ”Bulan lalu ia menikah dan kau tak diberi kabar. Kau harusnya bersyukur, karena kau bisa menghemat sekian puluh bahkan ratusan ribu rupiah. Kau tak perlu memberinya kado kan? Bukankah kau sedang berusaha berhemat, hahhh? Sebulan lalu dia menikah, dan anggaplah dia meninggalkanmu meskipun aku yakin dia sama sekali tak tertarik padamu, bukankah itu pertanda bahwa kau tak perlu memasukkan dia dalam daftar lelaki idamanmu yang sudah sangat panjang itu? Aku yakin kau masih mau mengurangi jumlah lelaki yang terdaftar di daftar gilamu itu, sebelum aku yakin kau mengalami disorder jenis baru. Satu lagi, sejak dia menikah, kau tau kan harus menikah dengan siapa. Yang jelas bukan dengan si pria tampan, lucu dan cerdas itu. Dan masih banyak lagi kemudahan lain. Aku tak perlu membeberkan semuanya. Belum tentu juga kau melupakan dia yang sudah menikah itu”. Aku bingung lagi dan berkata lagi dalam hati, ”Kejam, dia bilang lelaki itu tak tertarik padaku. Sungguh kejam”. Temanku meneruskan kebiasaannya memasukkan makanan ke mulut. Dan catat ini, dia pasang muka sinis, meremehkan dan ekspresinya seakan berkata ”dasar bodoh!”.

Sebulan bukan waktu yang singkat. Hampir setiap hari selama sebulan, yang aku bicarakan dengan temanku tadi hanyalah tentang pria tampan, lucu dan cerdas itu. Hanya itu. Dan polanya selalu sama. Aku bilang padanya perasaanku deg-degan, dia tanya kenapa, aku bilang teringat seseorang, dia tanya siapa, aku jawab pria tampan, lucu dan cerdas, dia bilang lupakan saja pria itu karena dia sudah beristri, aku bilang tak bisa, dia bilang cobalah, aku bilang lagi tak bisa dan setelah itu temanku akan berbicara semua hal yang mungkin kulakukan. Itu berlangsung setiap hari. Jadi kupikir temanku sudah layu. Dia lelah dengan aku yang tak bisa membantu diri sendiri. Maka, setelah sebulan dia sampaikan sesuatu di kantin. Hari ini. Aku lihat lagi wajahnya. Temanku yang baik ini, dia sudah lelah olehku. Dan aku tidak pernah bisa mengerti. Hanya aku yang ingin dimengerti.

Aku cerna lagi kata-katanya tadi. Yang pertama tentang kemungkinan bahwa pria itu tidak tertarik padaku. Itu adalah hal yang tak kuinginkan dan itu juga yang terjadi sebenarnya. Pria tampan, lucu dan cerdas itu sama sekali tak tertarik padaku. Sedikitpun. Dia tipe pria yang menyukai gadis, gadis seutuhnya. Ramping, solehah, cerdas, keibuan dan cantik. Aku sama sekali tak punya kriteria yang ia dambakan. Aku gendut, malas sholat, cenderung moron, tidak memiliki kualitas ibu dan jelek. Maka aku memberikan cinta platonisku pada pria yang sama sekali tak melirikku. Bukankah itu bodoh? Ya, aku bodoh. Soal berhemat, itu tak terlalu kena sasaran. Karena tadi pagi aku mengirimkan paket untuk pria tampan, lucu dan cerdas sebagai bingkisan atas pernikahannya. Aku jadi malu. Sejak dia menikah, aku jadi kehilangan satu pria idaman. Ya, jumlah lelaki didaftarku akan berkurang. Dan itu akan menghemat pikiran, dan kertasku. Huh…!!!! Dan sejak ia menikah, harusnya aku tak ragu lagi. Aku tahu dengan siapa aku ingin menikah. Hmmm…kau benar temanku. Kau terutama benar pada bagian jaminan dari Allah tadi. Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan. Kau benar.

Aku tersenyum. Memanggil nama temanku dan memberi tanggapan atas apa yang dia katakan tadi. Dia tidak tersenyum, dan berkata, ”Kau lupa satu hal, aku sangat senang akhirnya pria tampan, lucu dan cerdas itu menikah. Bukankah kini daftarmu kurang satu orang? Aku mau mengisi tempat yang kosong itu. Dan maukah kau meletakkan ku dinomor 1? Aku ingin diprioritaskan. Bukankah ini kemudahan bagimu? Kau tak perlu repot mencari siapa yang mau diprioritaskan sebagai calon suamimu. Aku menawarkan diri”.

untuk : Ihsan Ma’zhumi dan IAL-DP


Powered by WordPress.com