bukan apa-apa

July 27, 2009

Jujur bikin terbujur!!!

Filed under: asa — by nareddish @ 1:13 pm

Kejujuran ternyata tidak penting. Oke, kejujuran adalah hal yang universal. Maksudku, secara “umum ideal” kejujuran adalah salah satu hal yang terlihat indah, surga dan sangat tepat untuk menjadi salah satu kriteria manusia baik. Tapi aku ini hidup dalam sistem yang tidak universal. Kawan. Sistem yang melingkupiku kini adalah sistem yang rugi merugikan, tanpa berkah memberkahi. Jadi segala hal apapun itu yang terjadi pada diriku yang berasal dari sistemku, biasanya tidak aku pahami secara universal. Termasuk kejujuran. Aku pahami itu secara kasus, hanya terjadi pada satu ruang, hanya terjadi padaku, bukan padamu. Kejujuran yang awalnya sangat terhormat turun derajat karena hanya bisa dipahami per kasus. Bagiku kini, kejujuran itu artinya memuakkan.

Setelah cukup lelah mengikuti semua alur BIROKRASI, aku juga sudah sangat lelah untuk tidak bohong.

Menjadi jujur dalam sistem yang tidak jujur ini hanya akan merugikan diriku sendiri. Hanya membuatku terlihat seperti orang bodoh, yang dibodohi sistem. Dibodohi oleh orang-orang yang tidak pernah mau jujur. Orang-orang yang senang melihatku terbujur kaku karena kejujuran. Titik.

*the comic was copied from : http://blogs.msdn.com/officeoffline/archive/2008/05/12/you-want-the-truth.aspx*

July 2, 2009

Hebat!!!

Filed under: hari ini — by nareddish @ 2:43 pm
Tags:

Cerita 1 : Saya tadi melihat, seorang perempuan. Sudah tua, tapi punya perasaan muda. Punya senyum yang hanya akan diberikannya pada orang lain yang tersenyum dengan tulus padanya. Perempuan tua itu sudah lama berada di luar negeri. Merasakan dunia lain, merasakan beragam persepsi. Perempuan tua itu memiliki ingatan bahwa ia adalah orang Indonesia dan makhluk Tuhan juga. Maka dengan segala kehebatannya ia tidak pernah mau tersenyum bangga atas apa yang ia pernah dapat. Ia hanya akan tersenyum bangga, atas apa yang pernah ia berikan kepada orang lain, orang banyak, temannya, bangsanya dan mungkin suatu hari Tuhannya.

Cerita 2 : Tadi saya melihat, seorang dosen yang punya banyak norma akademik. Menjalankan dan menaati semua norma demi tercapainya sebuah kedamaian dalam nafas ilmiah. Hingga pada satu saat, ia akan melepaskan semua titel ilmiahnya. Yang ia lakukan hanya menyapa mahasiswanya, bertanya tentang kabarnya, dan sepenuh hati memberikan pujian atas hasil kerja mahasiswanya. Hanya itu, dan semua hipotesis tentang “hati yang tersentuh” telah terhampar kebenarannya.

Cerita 3 : Saya tadi melihat, seorang ibu yang berdiri tegak di depan orang banyak. Ibu itu menjawab semua pertanyaan, satu demi satu. Tidak lupa senyum dan juga tertawa sedikit. Dibelakangnya, tiga orang putri cantik seakan memberikan debu-debu cahaya bagi ibunya. Sang ibu berdiri tegak dalam kenangan kasih suami tercinta dan dalam balutan mesra keluarga. Ibu itu akhirnya menang dalam pertempuran berat yang selama ini ia pilih untuk ia menangkan.

Ini hebat!!!

February 6, 2009

Nanti, menyendiri akan datang!

Filed under: asa, cita — by nareddish @ 8:42 pm

Waktu itu, malam-malam…saya ngobrol dengan teman. Namanya Cui, besar di bandung dan sedang mencari cinta. Saya dan dia membahas tentang enaknya hidup sendiri. Menurut Cui “menyendiri” adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup. Menurut saya, tidak mungkin. Manusia tidak akan pernah lepas dari manusia lain. Sebesar apapun niat manusia untuk menyendiri ia tidak akan pernah sendiri. Status itu berlangsung sampai dengan nafas terakhir. Setelah menjadi tidak bernyawa, disaat itulah manusia bisa “menyendiri”. Cui mengasihani saya karena tidak bisa menyendiri. Setelah bermalam-malam kemudian saya menyadari, mungkin Cui salah mengerti tentang maksud saya.

Jadi gini, Cui…

Saya tidak bisa menyendiri, bahkan dalam keadaan terburuk. Kalau sendiri bisa gila mungkin. Ketika perasaan saya sedang tidak sedap, saya butuh orang lain. Waktu doping menolak proposal saya, ada menit-menit tertentu yang saya gunakan untuk mengakui kekurangan saya. Setelah itu saya butuh orang lain untuk konfirmasi tentang pikiran saya, mendengar cerita lucu atau sekedar mendengarkan kesedihan saya. Lain waktu, ketika seorang teman menuduh saya tidak kooperatif. Saya butuh waktu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia seperti itu dan mengapa saya begini. Tapi itu tak lama, saya tidak butuh berpikir sendiri tentang tuduhan itu. Saya segera kumpulkan orang lain untuk membantu saya membuktikan yang sebenarnya. Sungguh saya tidak bisa sendiri.

Kembali pada malam saya dan cui ngobrol. Kata cui, orang yang ahli menyendiri menjadi sangat bahagia karena tanpa orang lainpun ia bisa menjalani harinya. Kayaknya susah, ui…..

Mungkinkah saya tidak tersenyum pada orang yang kamarnya ada didepan kamar saya? Mungkin. Tapi syaratnya banyak. Orang itu harus diam terus dikamarnya. Hanya keluar ketika saya keluar. Hanya menerima orang selain saya. Mungkin saya tidak akan tersenyum padanya. Tapi ketika ia mulai membuka pintu kamar dan hatinya, ketika ia mulai bertanya apakah air mati atau tidak, ketika ia menawarkan saya masakannya…apakah pantas bila saya tidak tersenyum? Apakah pantas saya menyendiri?

Sampai disini, saya jadi terpikir. Menyendiri akan saya lakukan ketika saya telah memenuhi beberapa kriteria. Saya akan menyendiri ketika saya punya seluruh dunia dalam tas ransel saya. Saya tau hal itu akan terjadi bila saya patuh, taat, cinta dan takut pada Yang Maha Pemilik Alam Semesta. Saya akan menyendiri ketika saya punya bekal dalam tas ransel saya. Bekal itu ada banyak, ui. Saya butuh pengetahuan, agar ketika ditanya tentang apapun saya menjawab dengan tepat. Saya butuh kesabaran, agar ketika menunggu dalam kesepian saya selalu tersenyum. Saya akan menyendiri ketika saya mampu melangkahkan kaki dalam nafas keselamatan, keselamatan alam semesta. Mungkinkah saya bisa menyendiri, ui? Paling tidak ketika saya menulis ini, waktunya belum tiba.

“Pesan dari teladan sepanjang zaman : Jangan takut mati. Meski kau sembunyi dia menghampiri. Takutlah pada kehidupan sesudah kau mati. Renungkanlah itu!”

November 6, 2008

HAS* 1

Filed under: hari ini — by nareddish @ 5:15 pm

Saya pernah membaca kalimat, “hidup adalah sekolah”. Kalimat itu….hmmmm…..saya mulai memamah ulang semua hal yang saya lihat hari ini.

Pagi hari, saya belajar tentang ‘apa yang terjadi bila saya menyapa? Bila saya tersenyum?”. Ini yang terjadi. Lelaki cerdas itu kemudian memberi saya bantuan tak terduga, sebuah makalah tentang topik yang saya cari. Seorang lelaki lagi mendapatkan informasi dari saya tentang dosen yang ia incar sebagai pembimbingnya. Seorang lelaki lain tersenyum, dengan catatan ia bahkan tidak tau siapa saya. Ini soal lelaki? Bukan. Ada perempuan, tertawa malu-malu karena mengakui headset yang ia pakai baru ia beli kemarin di pameran. Seorang perempuan bersemangat mencari topic penelitian dan memutuskan untuk berolahraga sore hari. Perempuan lain memutuskan bahwa ia tertarik pada seorang lelaki dan menyadari saatnya belum tiba (hahahahahaa…. ^_^).

Siang hari, saya belajar tentang ‘apa gunanya berteman?’. Saya terkejut menyaksikan, mengalami, dan memahami efeknya. Sungguh. Seorang perempuan, cantik, muda, pintar. Ia memaksa untuk membantu saya. Anugrah apa ini? Perempuan lain bilang bahwa hidup saya sangat beruntung, karena memiliki teman sepertinya. Seorang perempuan lain bercerita betapa repot dan indahnya masa-masa minggu pertamanya menjadi istri. Teman saya yang lelaki membuat saya menghargai bau rokok, karena setiap apa pun semestinya antar teman selalu berbagi (………)

Menjelang sore, dibawah hujan, saya belajar. Bahwa ini hidup bisa berhenti tepat ketika saya menekan keyboard untuk huruf terakhir saya. Dan bukan itu fenomena yang patut dipahami. Jelas, bahwa dalam seragam sekolah apapun manusia harus jadi yang terbaik.

*hidup adalah sekolah

April 29, 2008

Subjektivitas Positivisme

Filed under: catatan jujur, hari ini — by nareddish @ 11:41 pm

Aku mau curhat*

Mengapa subjektivitas selalu menimbulkan masalah? Mengapa selalu menimbulkan rasa tidak enak? Mengapa tiba-tiba saja senyum antar teman menjadi sirna? Mengapa semua hal yang menyenangkan menjadi hilang?

Dalam situasi yang diminta untuk positif, ternyata sulit sekali untuk tidak negatif. Asumsiku, lingkungan positif hanya bisa dibentuk bila komponen-komponen didalam lingkungan itu memang meginginkan keadaan yang positif.

Kawan (meminjam dari Hirata, 2008), itu pengalamanku di kelas psikologi positif. Yang aku pahami, pembelajaran di psikologi positif dapat mengarahkan aku (tidak mewakili seluruh peserta kuliah –not at all-) kepada evaluasi positif terhadap semua komponen kehidupan. Aku harus berpandangan positif ketika merancang pembelajaran untuk low achiever, yang berarti aku harus melihat bahwa anak-anak spesial itu jelas dan selalu memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan sehingga membuat mereka berprestasi dalam hal apapun (tapi tidak lepas dari konteksnya). Maka bila aku menghayati keseluruhan pembelajaran itu, diharapkan aku menjadi orang yang selalu punya cara evaluasi yang positif terhadap semua hal. Terhadap harga makanan yang makin mahal, terhadap orang yang sangat perhatian padaku, terhadap teman yang bahkan melihatku pun tak mau, terhadap motorku yang ngambek, terhadap apa pun.

Cerita sebenarnya dimulai dari sini. Salah satu yang unik di kelas psikologi positifku adalah sistem presentasi, kuis dan nilainya. Seluruh peserta kelas dibagi ke dalam 5 kelompok. Setiap kelompok membahas salah satu topik dalam psikologi positif (umumnya kami beracuan pada Compton). Kelompok mempersiapkan presentasi. Setiap anggota kelompok akan presentasi di depan kelompok-kelompok kecil (dibentuk dari peserta yang tidak presentasi). Jadi tidak presentasi di depan kelas. Selesai presentasi (20 menit), diadakan kuis (10 menit). Soal kuisnya berkaitan dengan konsep dasar topik yang dipresentasikan dan 3 riset tentang topik tersebut. Jawaban kuis kemudian diperiksa di hari itu juga di kelas. Jawaban kuis diperiksa oleh peserta kelas itu sendiri (didistribusikan sehingga tidak ada yang memeriksa teman disebelahnya atau memeriksa jawaban sendiri). Kunci jawaban dan skor tiap jawaban ditentukan oleh kelompok yang presentasi. Jadi penilaian setiap peserta didasarkan pada acuan itu. Adapun bentuk jawaban kuis adalah recall (cukup menyebutkan) dan deskripsi (harus diuraikan).

Istilah temanku, penilaian kuis sangat subjektif. Maksudnya meskipun ada acuan skor, tapi penilaian terhadap jawaban tetap saja tergantung yang memeriksa. Bila dianggap cocok diberi skor tinggi, bila tidak skornya rendah. Kalau yang memeriksa sangat objektif, kata yang tidak sama atau kalimat yang tidak bisa ia (pemeriksa) pahami akan di skor rendah. Sebaliknya bila pemeriksa adalah orang yang sangat ”nyantai”, bisa saja skor yang diberikan berdasarkan ”upah nulis” + ”kasihan” + ”demi kebaikan bersama”. Nilai yang didapat peserta (kecuali yang presentasi) menjadi nilai pribadinya, dan deposit untuk nilai final (karena tidak ada UAS). Sekaligus semua nilai dirata-ratakan, kemudian menjadi nilai kelompok. Untuk mengurangi subjektivitas (?) setiap peserta boleh komplain tentang skor yang didapatkannya.

Wuih…setiap selesai penilaian suasana kelas menjadi sangat sungguh benar-benar tidak enak.

”Kok disalahin? Ini kan benar”

”Kamu gimana sih? Ngasih nilai pelit benar!”

”Maaf ya, saya mau bertanya tentang penilaian ini. Mengapa saya diberi skor hanya segini?”

Cepat..cepat keluar dari kelas, aku tidak tahan. Sungguh. Aku capek. Capek berpikiran negatif. Ingin segera meraup udara positif.

Bukan, Kawan. Aku bukan tidak suka dengan sistemnya. Aku sungguh menyukainya. Dalam konteks, ini adalah pengalaman baru. Aku tidak masalah dengan penilaian yang subjektif. Toh…hakikatnya, tidak ada sesuatu apapun yang objektif di dunia ini (refer to lecture of Filsafat Ilmu). Sungguh. Aku mengakui bahwa nilai yang kudapatkan penting. Itu penting untuk kelulusanku dari sekolah formal. Aku tahu itu, Kawan. Sungguh. Tapi bolehkah aku berharap sesuatu di luar nilai itu. Aku berharap banyak nilai lain lagi, yang akan membawaku lulus di universitas kehidupan. Nilai dalam menerima semua tantangan, nilai dalam menerima apa pun yang ku punya, nilai bahwa nasibku bisa berubah bila tanganku sendiri yang mengubahnya, nilai bahwa teman adalah harta yang sangat berharga, nilai bahwa pengetahuan bukan sesuatu yang tidak boleh dibagikan, nilai bahwa senyuman adalah cara kita memandang dunia dengan lebih indah, sungguh aku mengharapkan banyak nilai lain. Sebut aku munafik, sebut aku ”sok paten”, sebut apa saja yang Kawan kira bisa menggambarkanku. Tapi aku tahu paham tentang apa yang aku mau, maka aku tak peduli dengan sebutan yang menyerangku. Bahkan dengan sebutan itu aku kemudian ”thriving and flourishing” menuju ”the autenthic me”. Untuk itu terima kasih.

Kawan, aku minta maaf bila kalian yang pernah aku periksa jawaban kuisnya merasa dirugikan. Aku minta maaf. Aku selalu menulis di kertas kalian, kan? Bahwa aku menerima komplain? Aku punya ”konsep dasar” untuk memberi upah nulis. Aku hanya mengacu pada kunci jawabannya dan rasa sayangku pada kehidupan (euh…parabolic words that must be removed?). Aku minta maaf untuk kampanye ”UPAH NULIS” yang aku lakukan. Aku minta maaf bila langkah lancangku mengancam objektivitas yang kalian miliki. Aku hanya menjaga setiap nilai positif yang aku punya. Aku paham bahwa nilai pribadi setiap kita akan meningkatkan nilai kelompok. Aku cuma ingin kita semua merasa nyaman dengan teman yang sudah lama kita ajak makan ke kantin, teman yang sering kali menjaga tas kita, dan juga nyaman dengan kelas tempat kita kuliah itu. Beneran, aku minta kita seperti dulu lagi. Bisa tertawa. Bisa tertawa. Bisa tertawa. Bisa tertawa. Bantu aku, Kawan. Aku bisa ”gak positif” di kelas positif ini.

Sampai disini, Kawan. Aku sedikit lega. Tapi temanku bilang, aku bisa tulis seperti ini karena skor kuisku belum pernah di bawah 50 (!@#$%^&*)

-dina nazriani-

29 April 2008

*tidak ditulis sebagai protes terhadap apapun. hanya curhat.

Next Page »

Powered by WordPress.com