Cooking a Life


menjadi koki

hidup ini pasti, kawan.

sudah ada benang merahnya, ada dalangnya..bukan seperti OVJ yang hampir selalu ngawur ceritanya ^^ {tapi lucu juga}.

menanggapi kepastian tentang hidup, saya memilih keluar dari sikap dan sifat tidak pasti. Hidup yang merasa “bukan apa-apa”. Saya mau jadi koki untuk dapur kehidupan saya sendiri, seraya menyerahkan segalanya kepada Sang Dalang Terpuji.

And, from this day on I decide to be a cook then cooking a life for mine :)


diskusi malam

sampai batas amal

aku masih takut dijeput ajal

meski aku kenal

tuhan punya maksud kekal


Jujur bikin terbujur!!!

Kejujuran ternyata tidak penting. Oke, kejujuran adalah hal yang universal. Maksudku, secara “umum ideal” kejujuran adalah salah satu hal yang terlihat indah, surga dan sangat tepat untuk menjadi salah satu kriteria manusia baik. Tapi aku ini hidup dalam sistem yang tidak universal. Kawan. Sistem yang melingkupiku kini adalah sistem yang rugi merugikan, tanpa berkah memberkahi. Jadi segala hal apapun itu yang terjadi pada diriku yang berasal dari sistemku, biasanya tidak aku pahami secara universal. Termasuk kejujuran. Aku pahami itu secara kasus, hanya terjadi pada satu ruang, hanya terjadi padaku, bukan padamu. Kejujuran yang awalnya sangat terhormat turun derajat karena hanya bisa dipahami per kasus. Bagiku kini, kejujuran itu artinya memuakkan.

Setelah cukup lelah mengikuti semua alur BIROKRASI, aku juga sudah sangat lelah untuk tidak bohong.

Menjadi jujur dalam sistem yang tidak jujur ini hanya akan merugikan diriku sendiri. Hanya membuatku terlihat seperti orang bodoh, yang dibodohi sistem. Dibodohi oleh orang-orang yang tidak pernah mau jujur. Orang-orang yang senang melihatku terbujur kaku karena kejujuran. Titik.

*the comic was copied from : http://blogs.msdn.com/officeoffline/archive/2008/05/12/you-want-the-truth.aspx*


Hebat!!!

Cerita 1 : Saya tadi melihat, seorang perempuan. Sudah tua, tapi punya perasaan muda. Punya senyum yang hanya akan diberikannya pada orang lain yang tersenyum dengan tulus padanya. Perempuan tua itu sudah lama berada di luar negeri. Merasakan dunia lain, merasakan beragam persepsi. Perempuan tua itu memiliki ingatan bahwa ia adalah orang Indonesia dan makhluk Tuhan juga. Maka dengan segala kehebatannya ia tidak pernah mau tersenyum bangga atas apa yang ia pernah dapat. Ia hanya akan tersenyum bangga, atas apa yang pernah ia berikan kepada orang lain, orang banyak, temannya, bangsanya dan mungkin suatu hari Tuhannya.

Cerita 2 : Tadi saya melihat, seorang dosen yang punya banyak norma akademik. Menjalankan dan menaati semua norma demi tercapainya sebuah kedamaian dalam nafas ilmiah. Hingga pada satu saat, ia akan melepaskan semua titel ilmiahnya. Yang ia lakukan hanya menyapa mahasiswanya, bertanya tentang kabarnya, dan sepenuh hati memberikan pujian atas hasil kerja mahasiswanya. Hanya itu, dan semua hipotesis tentang “hati yang tersentuh” telah terhampar kebenarannya.

Cerita 3 : Saya tadi melihat, seorang ibu yang berdiri tegak di depan orang banyak. Ibu itu menjawab semua pertanyaan, satu demi satu. Tidak lupa senyum dan juga tertawa sedikit. Dibelakangnya, tiga orang putri cantik seakan memberikan debu-debu cahaya bagi ibunya. Sang ibu berdiri tegak dalam kenangan kasih suami tercinta dan dalam balutan mesra keluarga. Ibu itu akhirnya menang dalam pertempuran berat yang selama ini ia pilih untuk ia menangkan.

Ini hebat!!!


Nanti, menyendiri akan datang!

Waktu itu, malam-malam…saya ngobrol dengan teman. Namanya Cui, besar di bandung dan sedang mencari cinta. Saya dan dia membahas tentang enaknya hidup sendiri. Menurut Cui “menyendiri” adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup. Menurut saya, tidak mungkin. Manusia tidak akan pernah lepas dari manusia lain. Sebesar apapun niat manusia untuk menyendiri ia tidak akan pernah sendiri. Status itu berlangsung sampai dengan nafas terakhir. Setelah menjadi tidak bernyawa, disaat itulah manusia bisa “menyendiri”. Cui mengasihani saya karena tidak bisa menyendiri. Setelah bermalam-malam kemudian saya menyadari, mungkin Cui salah mengerti tentang maksud saya.

Jadi gini, Cui…

Saya tidak bisa menyendiri, bahkan dalam keadaan terburuk. Kalau sendiri bisa gila mungkin. Ketika perasaan saya sedang tidak sedap, saya butuh orang lain. Waktu doping menolak proposal saya, ada menit-menit tertentu yang saya gunakan untuk mengakui kekurangan saya. Setelah itu saya butuh orang lain untuk konfirmasi tentang pikiran saya, mendengar cerita lucu atau sekedar mendengarkan kesedihan saya. Lain waktu, ketika seorang teman menuduh saya tidak kooperatif. Saya butuh waktu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia seperti itu dan mengapa saya begini. Tapi itu tak lama, saya tidak butuh berpikir sendiri tentang tuduhan itu. Saya segera kumpulkan orang lain untuk membantu saya membuktikan yang sebenarnya. Sungguh saya tidak bisa sendiri.

Kembali pada malam saya dan cui ngobrol. Kata cui, orang yang ahli menyendiri menjadi sangat bahagia karena tanpa orang lainpun ia bisa menjalani harinya. Kayaknya susah, ui…..

Mungkinkah saya tidak tersenyum pada orang yang kamarnya ada didepan kamar saya? Mungkin. Tapi syaratnya banyak. Orang itu harus diam terus dikamarnya. Hanya keluar ketika saya keluar. Hanya menerima orang selain saya. Mungkin saya tidak akan tersenyum padanya. Tapi ketika ia mulai membuka pintu kamar dan hatinya, ketika ia mulai bertanya apakah air mati atau tidak, ketika ia menawarkan saya masakannya…apakah pantas bila saya tidak tersenyum? Apakah pantas saya menyendiri?

Sampai disini, saya jadi terpikir. Menyendiri akan saya lakukan ketika saya telah memenuhi beberapa kriteria. Saya akan menyendiri ketika saya punya seluruh dunia dalam tas ransel saya. Saya tau hal itu akan terjadi bila saya patuh, taat, cinta dan takut pada Yang Maha Pemilik Alam Semesta. Saya akan menyendiri ketika saya punya bekal dalam tas ransel saya. Bekal itu ada banyak, ui. Saya butuh pengetahuan, agar ketika ditanya tentang apapun saya menjawab dengan tepat. Saya butuh kesabaran, agar ketika menunggu dalam kesepian saya selalu tersenyum. Saya akan menyendiri ketika saya mampu melangkahkan kaki dalam nafas keselamatan, keselamatan alam semesta. Mungkinkah saya bisa menyendiri, ui? Paling tidak ketika saya menulis ini, waktunya belum tiba.

“Pesan dari teladan sepanjang zaman : Jangan takut mati. Meski kau sembunyi dia menghampiri. Takutlah pada kehidupan sesudah kau mati. Renungkanlah itu!”


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.